Kamis, 04 Agustus 2011

HARUMNYA AMAL SHALEH

Agama Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya tujuan dalam hidup dan kehidupan. Tujuan dan sekaligus cara pandang dalam hidup dan kehidupan setiap manusia adalah melaksanakan tugas sebagai hamba Allah dengan sebaik-baiknya. Secara sederhana kita pahami diri sebagai makhluk ciptaan sang khaliq yang memiliki hubungan antara Rab – Tuhan dengan hambaNya. Maka logikanya, seorang hamba wajib menunjukkan bakti kepada Rab atau Tuhannya. Hal ini sangat jelas disuratkan dalam Al-Qur.an Surat Az-Zariyat ayat 56 :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Namun demikian, marilah kita memahami ayat ini dengan pandangan yang dilandasi sikap beriman yang benar, bahwa Allah Swt., sama sekali tidak memerlukan pengabdian itu karena Ia Maha Besar dengan sendirinya tanpa harus dibesar-besarkan oleh pengabdian hambaNya. Ayat ini hendaknya dipahami dari sudut pandang kehambaan, bukan dari sudut pandang Sang Khaliq. Hal ini berarti bahwa mengabdikan diri kepada Allah Rabbul "alamin merupakan kewajiban dasar manusia sebagai akibat penciptaan itu. Secara maknawi sikap mengabdi itu merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah yang menghidupkan, memberi rizki, memberi hidayah iman, menganugrahkan ketenangan dan kebahagiaan, memberikan ujian sesuai dengan kadar kemampuan hambaNYa dan juga menentukan kematian. Inilah sikap seorang hamba yang beriman, yang hanya menyandarkan diri kepada Allah Swt.

Sikap keberimanan yang demikian diwujudkan dengan amal shaleh, amal perbuatan yang baik yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat yang dilandasi dengan niat semata-mata untuk mengabdikan diri kepada Allah Swt. Dibalik itu adalah hak Allah Swt., untuk memberikan imbalan yang terbaik bagi hambaNYa yang melaksanakan amal shaleh itu. Sebagaimana FirmanNya dalam surat Al – Kahfi ayat 88 :

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami". (Al-Kahfi)

Dengan pandangan ini maka tujuan mengabdi kepada Allah Swt dicapai dengan pendekatan amal shaleh sebagai salah satu perwujudan ibadah. Selanjutnya, amal shaleh itu dimaknai dalam peri kehidupan sehari-hari sebagai segala perbuatan baik yang diniatkan untuk mengabdikan diri kepada Allah Swt dan mengharapkan ridhaNya. Jika demikian maka seluruh pekerjaan baik yang dilaksanakan seorang hamba Allah jika dibangun dengan niat ibadah, maka seseorang itu merengkuh 2 (dua) tujuan sekaligus, yaitu tujuan duniawi atas ridha Allah dan tujuan ukhrawi sebagai ibadah kepada Allah Swt. Secara sosial, orang yang selalu melakukan perbuatan baik akan mengharumkan namanya dan sekaligus dicintai oleh Allah Swt.

Memahami amal shaleh seperti itu mengandung makna perintah untuk bekerja baik secara tersirat maupun tersurat. Perintah bekerja untuk menjadi manusia yang berguna, sejahtera dan bermartabat sesuai dengan kemampuan dan takdir yang dijalaninya. Amal Shaleh yang diterjemahkan menjadi dunia kerja nyata untuk meningkatkan martabat kemanusiaan, mensejahterakan keluarga, memberi manfaat untuk lingkungan sekitar akan menjadikan kehidupan ini damai tentram. Bekerja merupakan salah satu aspek kehidupan yang hakiki yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah kelak dan sekaligus secara kasat mata sebagai salah satu ukuran seseorang itu bermanfaat dalam kehidupan sosial. Karena salah satu perintah Allah yang berkaitan dengan kehidupan ini adalah bekerja.

Firman Allah Swt dalam surat At-Taubah 105 :

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan. (At-Taubah 105)

Demikian indahnya Amal Shaleh itu dan demikian pentingnya meletakkan niat pada setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Namun demikian sekaligus demikian sulitnya kedua hal itu diwujudkan. Sabda Rasulullah Saw : "Innamal 'a'maalu bin niyyat, wa likulli imriin ma nawaa" merupakan ungkapan kunci yang sangat penting, tetapi sering dilalaikan yang menyebabkan nilai amal menjadi hampa. Seseorang bisa saja terpuji karena perbuatan baiknya secara sosial, tetapi jika tidak dilandasi niat untuk ibadah maka tujuan amal shalehnya tidak tercapai. Keterpujian yang diterima menjadi pujian semu, hasil yang diperoleh juga semu, kalau menghasilkan harta benda akan menjadi harta benda yang tidak berkah.

Masalahnya adalah, tidak ada yang bisa mengetahui niat seseorang kecuali Allah Swt dan diri yang bersangkutan. Kepalsuan amal karena ketidak sadaran berawal dari kurangnya kesadaran diri tentang pentingnya niat dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan kurang akrabnya seseorang dengan hati nuraninya. Maka marilah masing-masing kita menata niat dalam hidup ini sehingga tujuan dunia tercapai penuh berkah dengan ridha Allah, dan tujuan akhirat juga dapat diharapkan.

Setiap pekerjaan yang memberi manfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya memuliakan kemanusiaan. Keringat yang menetes dari kerja yang ikhlas hasilnya akan terasa manis, bau apek yang melekat di badan akan tercium harum, kesulitan yang menguji kesabaran dalam kerja akan melapangkan dada, kepasrahan menerima beban kerja yang berat akan mengundang bantuan tak terduga dari Yang Maha Penolong. Dalam bekerja janganlah semata-mata didorong dengan nafsu dan keinginan untuk mendapatkan upah atau penghasilan secara materi, karena sikap yang demikian berarti kita membatasi rahmat Allah yang demikian luas dan menutup pintu rizki yang tak terhingga sumbernya. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi :

Hai Anak Adam, luangkan waktumu untuk beribadah kepadaKu niscaya aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan, kalau tidak Aku tanganmu dengan kesibukan kerja dan tidak menghindarkanmu dari kemelaratan. (HR. At-Tarmizi dan Ibnu Majah)

Firman Allah dalam Hadits Qudsi di atas mengisyaratkan bahwa waktu yang merupakan anugrah istimewa dari Allah Swt hendaknya digunakan untuk memakmurkan kehidupan secara material maupun spiritual. Kemakmuran dan kekayaan yang dapat dinikmati hanyalah kekayaan yang telah menjadi bagian dari kesadaran kehambaan dalam dada yaitu kekayaan yang diperoleh, diterima dan dinikmati dengan kesyukuran, dari hasil keringat kerja yang dimotivasi atau digerakkan dengan niat ibadah. Jika kita telah memelihara niat ibadah dalam seluruh rangkaian aktivitas atau pekerjaan kita sehari-hari, maka buanglah segala kekhawatiran akan hasil yang kita peroleh. Jangan takut akan kekurangan karena Allah yang menjamin rizki hamba-hambaNya yang beribadah dan memelihara ketentraman hidupnya. Ketakutan, kekhawatiran dan sak wasangka akan mengundang gangguan yang menyebabkan kita berpaling dari Allah Swt. Dalam hal ini Allah berfirman :

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az-zumar 36)

Nilai Amal Shaleh juga merupakan sahabat yang paling setia, ketika kita hidup begitu sulit mencintainya, tetapi saat kita terbaring tak berdaya sendiri dalam kubur kita sangat membutuhkannya. Pada saat kita berhadapan dengan hisab, sahabat yang satu ini pula yang akan membela kita.

(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang Telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan). (An-Nahl 111)

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk melaksanakan Amal Shaleh dan bisa terbuka hati kita untuk memohon kepada Allah untuk bisa melakukan hanya apa yang dituntut oleh Allah Swt.

0 komentar:

Posting Komentar

Komunitas Blog Kampung Media

http://www.youtube.com/watch?v=vG8vV27O8mI. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers