Kamis, 29 Juli 2010

TENTANG SOSIAL


Terus Terang PLN Terang Terus…..


Sedang asyik mencari teman baru di Facebook, monitor computer saya tiba tiba menghitam. Karena siang hari sayapun tak terpikir untuk mengecek apakah listrik dari PLN mati ataukah computer saya sedang bermasalah. Sibuk sendiri, saya memijit mijit kabel daya computer yang terhubung ke steker lantas memeriksa sambungan kabel dari CPU ke monitor. Namun computer tak juga menyala setelah saya menekan tombol on/off computer saya sekali lagi. Akhirnya saya tersenyum sendiri setelah melihat lampu kamar mandi yang berdekatan dengan ruang computer juga mati. Rupanya PLN memang sedang mematikan sambungan listrik ke kampung saya.

Kejadian itu berlangsung dua hari sebelum SBY datang ke Lombok mencanangkan program Menuju Indonesia Bebas Pemadaman Listrik Bergilir di lapangan umum Mataram. Sebelum hari H, SBY datang ke Lombok, saya sudah bertekad untuk hadir dalam acara tersebut. Meski tak sedang “menjadi wartawan” dengan fasilitas kartu tanda pengenal untuk acara acara seperti itu namun saya akan berusaha ada di tempat itu bagaimanapun caranya. Motivasi saya jelas. Selama berbulan bulan saya benar benar merasa terganggu dengan pelayanan listrik PLN. Sayangnya, keresahan itu hanya tertumpu di layar televise rumah saya. Tak bisa berada di acara nasional itu, menonton siaran langsung di tivi juga tak apalah.

Kalau saja pemadaman bergilir itu berlangsung bahkan selama sehari penuh, saya hanya akan pasrah berpisah dengan teman teman saya di Facebook untuk hari itu. Tapi ajaibnya, seringkali mati listrik itu terjadi hanya berselang beberapa jam saja alias hidup…mati…hidup lagi…kemudian mati lagi alias byar pet. Di tempat kerja saya yang berbeda lokasi juga sama saja. Sampai sampai genset yang terlalu sering dihidupkan dan dimatikan lantas mendadak rusak.

Beberapa kali mengalami peristiwa itu, saya akhirnya mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Rupanya, selain karena pasokan listrik sedang diputus PLN, empat gardu listrik di seputar kampung saya secara ajaib mengalami kerusakan bergilir pula selama sebulan. Oalah….selain pemadaman bergilir rupanya apes juga karena gardu gardu milik PLN tiba tiba janjian rusak bergiliran. Itu sebabnya, Menteri ESDM, Darmin Zahedy Saleh dalam sambutannya saat pencanangan Menuju Indonesia Bebas Pemadaman Bergilir itu dibuka, merasa perlu menjelaskan makna bebas pemadaman bergilir yang sedang diusahakan pemerintah. Kalau begitu jelas. Selain alasan krisis listrik yang terjadi secara nasional, pencanangan kemarin membenarkan bahwa pelayanan listrik PLN selama ini memang buruk. Dirut PLN sendiri bahkan merasa perlu menyampaikan “hal hal kecil” terkait gangguan listrik yang terjadi di beberapa daerah seperti kabel listrik yang terkena cangkul, ada pula dahan pohon milik warga yang tak boleh ditebang meski akan dibayarkan ganti rugi sebesar apapun dan sebagainya. Yang menarik kalau tak boleh dibilang sedikit aneh adalah cerita Pak Dahlan Iskan yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang orang PLN sendiri adalah tenaga tenaga ahli yang dapat memperbaiki apa saja dengan biaya sangat murah tanpa harus melibatkan konsultan diluar PLN. Hingga akhirnya SBY pun merasa perlu mengumumkan undangan minum tehnya di Istana kepada karyawan karyawan PLN yang telah berjasa itu. Sebagai BUMN, PLN memiliki standar khusus dalam rekrutmen karyawan. Berlatar belakang serendah rendahnya Diploma III untuk teknik Elektro, ratusan ribu karyawan PLN seluruh Indonesia sudah selayaknya berkualitas. Di PLN, seperti juga BUMN lain memiliki divisi Litbang (Penelitian dan Pengembangan) yang di PLN disebut Perencanaan dan Teknologi. Tugasnya membuat kinerja PLN menjadi lebih efisien sehingga pelayanan pun menjadi maksimal. Menjadi BUMN yang dapat diandalkan oleh masyarakat memang tak semudah yang dibayangkan. Mungkin itu pula sebabnya, spanduk besar dibelakang panggung acara pencanangan tersebut harus ditambahkan kata “menuju” untuk mengantisipasi kalau kalau PLN tak sengaja ingkar dari janjinya sendiri.

Beberapa penyebab terjadinya krisis listrik yang berakibat pemadaman bergilir, diantaranya ; daya mampu mesin pembangkit lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan pelanggan, adanya de-rating (penurunan kemampuan mesin) mesin pembangkit akibat mesin pembangkit sudah tua adaanya mesin pembangkit yang mengalami kerusakan, pasokan bahan bakar minyak terbatas, sehingga ada mesin-mesin pembangkit yang tidak dapat dioperasikan.Setelah mematok target 30 Juni 2010 seluruh wilayah Indonesia sudah harus bebas dari pemadaman bergilir, sejak awal tahun 2010 PLN langsung bergerak cepat. Peta wilayah yang mengalami krisis daya disusun secara cermat. PLN langsung membuat program jangka pendek dan menengah/panjang.

Program jangka pendek untuk menanggulangi krisis daya, diantaranya :

  • Pembelian excess power (kelebihan daya listrik) dari swasta.
  • Perbaikan/uprating/relokasi mesin-mesin pembangkit dan sewa genset
  • Program Demand Side Management (DSM yaitu pengendalian beban dari sisi pelanggan (hemat listrik).

Sedangkan untuk program jangka menengah/panjang ;

  • Pembangunan proyek PLTU 10.000 MW tahap 1 dan tahap 2
  • Pembangunan PLTU skala kecil
  • Pembangunan PLTA/PLTMH di beberapa daerah, seperti di Maluku, Papua, Sulawesi, NTB dan NTT. (www.pln.co.id)

Yang paling mungkin diharapkan dari semua rencana PLN tersebut adalah jika listrik di rumah kita tidak lagi se – menjengkelkan kemarin. Malah tak hanya menjengkelkan, beberapa teman ada yang sudah kehilangan laptop, komputer, televise atau barang barang elektronik lain akibat ulah PLN. Semoga pula tak ada lagi demonstrasi seperti yang dilakukan warga Presak Timur menuntut kesungguhan PLN melayani masyarakat seperti terjadi beberapa waktu lalu. (Zammi Suryadi)

0 komentar:

Posting Komentar

Komunitas Blog Kampung Media

http://www.youtube.com/watch?v=vG8vV27O8mI. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers